Wednesday, November 11, 2009

NEW GIGS AND COME ON

hello guys, I have a recommendation for you who have a band in bandung or in Jakarta. There are some great gigs and events in Bandung. if there are interested and want to follow please see CP listed in the pamphlet. CP (022-92314789) or contact via fb: HELLGOD VISION ...









Monday, November 9, 2009

This Band Initially's fad during junior high school. Initially's this band doesn't have a good name, but Ryan aka ASHTWO, first vocalist give us name for this band. And the name is HARD MILK with a filoshopy Hareudang (language Sundanese).

Now his zombies called Hard Milk formed in mid 2003 by Doni, Ryan aka ASH TWO,FATHI. It wasnt till later on Riio the new bassist player joined the band. In a time where every Punk Rock band in Indonesia try to play as Punk Rock as they can, Hard Milk dare to play straight up pissed off, fast and heavy Melodic Punk Rock! influenced by bands like Blink 182, NOFX, No use For A Name, Hi-standard, Etc.

Now Our strongest line up are Rio Riza Samuel Sinulingga a.k.a xRiiox(vocal/guitar),Yudhi(guitar), Fiyann(bass), and Fathi a.k.a xFathix(Drums).

We have two compilations and one full albums,and the compilations are "Starsucks Compilation" from Anwark Overtone records(the band including so many tallented band from Jakarta, Depok, and Bogor), we also have compilation "Melodic On Fire". now were preparing for our 2nd album.First album of us was putting out by "NoMoreHeroesRecord" (an independent label from our hometown JAKARTA).

We combine all those type of music on our minds and put it together into our songs. We combine this with lyrics that are telling about how much we hate our jobs!, getting stuck in College, out of money to buy tea, smokes and new gears for this band, ear of becoming the worst designer or architect in the world, and how hard and mean the world is now! and also we can't avoid making some stupid love songs like everyone else!

This aint no popularity contest, this aint no fashion show. Just straight up pissed off Punk Rock the way we want it to be. (copy from their facebook)

and the band offers cool merch. how do you think?

Friday, October 30, 2009


Waktu lagi nonton infotaiment gosip bareng temen guw di kostan,, ada berita yang mengatakan vierra ngejiplak beberapa lagu luar.. rawr guw ketinggalan berita yah...

tapi jawaban yang sangat tidak logis saat, si kevin menjawab pertanyaan saat diwawancarai dengan jelas gw denger dia bilang gini " hmm, kita merasa gak kenala sama lagu dan band yang disebutkan, nada" di dunia ini kan banyak bisa ajah hanya kebetulan."

menurut guw gak logis karena jelas banget si Kevin itu kan anak gahol, dan anak musisi pula, masa gak KENAL WESTLIFE? LOSTPROPHETS? ataupun AYUMI HAMASAKI?
hahhaha maav ni ye...

menurut kabar si, lagu Dengarkan Curhatku ngikutin reff lagu Lostprophets – Rooftops, Bersamamu plagiat lagu Westlife – Close, Perih ngikutin lagu Ayumi Hamasaki – Daybreaks..
malah pas guw baca-baca di blog yang lain, ada beberapa lagu vierra yang lain nya mirip dengan lagu luar.

mau jadi apah kalo generasi muda di INDONESIA gaga kreatip gini.. kalo gitu mending guw dengerin lagunyah KANGEN BAND yang walau NORAK tapi MURNI hasil karya mereka...

daripada orang-orang yang mencaci dan memaki tapi dirinyah belom tentu se kreatip orang yang mereka caci...

hwahahahah

hayolah semangat SUMPAH PEMUDA kalian mana? wahai KAWULA MUDA!!

Monday, October 26, 2009

wew, walau guw gak nonton dengan mata kepala sendiri, cerita ini gw dapet dari sang pacar yang rela gak makan demi menonton LA lights INDIEFEST. Berhubung duit bulanannya abis gara" guw k jogja pas awal bulan kemaren, jadi terpaksa dia hidup melarat selama 2 minggu di jogja.. kasian:'(... Entah laki guw berangkat k stadiun kridosono ( yang lapangan dikelilingi tembok tinggi disampingnya penuh dengan mural+grafiti, udah gitu tempat acara musik gede'an kalo d jogja) menurut informasi dari papiih, ci Pee Wee Gaskins dilarang maen. aw aw Acara yang menurut pamflet mah dimulai jam 17.oo alias jam 5 sore waktu indonesia di jogja gitu..ngaret jadi jam 7 maleman gitu dikarenakan lapangannyah banjir abis ujan gede(kirain jakarta doang yang bisa banjir, haha)... setelah band-band finalis LA lights pada udahan manggung, tinggal RORO sama Pee Wee Gaskins manggung. Katanyah mah ada 2 panggung gitu, pas jam setengah 12an gitu, RORO dah beres di lagu pertama, giliran gorden panggung Pee wee gaskins dibuka yang menandakan mereka kudu siap nyanyi. eh ternyata ada polisi yang maw numpang tenar di depan para party dork dan laiinnya naek panggung dan ngelarang mereka main, dengan alasan acara sudah melampaui batas. setelah penonton menunggu hampir setengah jam, akhirnya ucay dan kawan' berkolaborasi dengan sansan dkk menyanyikan lagu berdiri terinjak milik pee wee gaskins.(RORO vs Pee Wee Gaskins, maksudnya) Menurut sumber informasi, si Pee Wee Gaskins maennya berantakan. eh bujugh dah, udah ditungguin sama party dork jogja, dan anak gahol lainnya, masa malah jelek maennya).. grrrr kita tunggu ajah cerita LA LIGHTS INDIFEST di BANDUNG.. otraiii...

Sunday, October 25, 2009


wew.. guw sempet buka tulisan" guw saat waktu mau bikin tabloid... ini salah satu artikel guw tentang salah satu band indie yang cukup berpotensiii...

Band yang beraliran indiepop ini merupakan band pelajar dari SMA 8 Bandung. Monkey Wears Pajamas terbentuk saat tahun 2007. Mereka dipertemukan saat mereka duduk di kelas 1 SMA, namun niat punya band baru muncul saat mereka duduk di kelas 2 SMA. Band yang beranggotakan Ggio(Vokalis), Opal (Bassis), Bejo(Gitaris), dan Jory (drummer) ini terinspirasi oleh Mocca. Mengapa mereka mengusung genre indiepop bukan genre lainnya? Karena genre yang lain tidak sesuai dengan Monkey Wears Pajamas, mereka merasa kurang mendapatkan feelnya apabila memainkan genre lain. Walau masih dikatakan pemula tetapi prestasinya tidak boleh diacuhkan, Monkey Wears Pajamas sempat bermain di acara Sumpah Pemuda di Gede Bage. Selain itu, mereka pernah mengisi acara 17-an dan PORSENI di SMA Negeri 8 Bandung. Semoga saja itu merupakan awal dari jalan kesuksesan Monkey Wears Pajamas. (lebih lengkapnyah:
http://www.myspace.com/pajamasmachine)

Saturday, October 24, 2009

Let's see!!!


Devrait-il y venir!!


Monalisa, kita pasti mengira itu adalah nama sebuah lukisan karya leonardo da vinci. Namun, Monalisa adalah sebuah band beraliran sadness punk sounds atau mereka sering menyebutnya aliran pop nakal yang terinspirasi dari musik-musiknya No use for a name, the ataris dan sebagainya. Band asal Bandung ini terbentuk pada September 2006. Nama Monalisa pun terinspirasi dari kisah cinta para personilnya. Sebenarnya kata Monalisa merupakan gabungan 2 nama yaitu ”Mona” dan ”Lisa”. ”Mona” ialah mantan pacar dari bassist ,sedangkan ”Lisa” adalah mantan pacar dari gitarisnya.

Monalisa terdiri dari Anugerah Pamuji yang biasa dipanggil Kacank(Lead guitar/vokal, Hadid(bassist/vokal), dan personil cewek satu-satunya yaitu Poppy(drums). Kiprah mereka di dunia musik indie sudah cukup lama dan sudah banyak juga komunitas underground yang mengenal band ini. Bulan Mei saja, mereka setiap minggu memiliki jadwal manggung yang padat.

Walaupun personilnya cuma tiga orang, tetapi harapan yang dimiliki pun tinggi. Mereka berharap musik Monalisa dapat diterima masyarakat dan juga ””Stop Pirate”, karena berawal dari kesadaran kita juga yang akan membawa industri musik Indonesia ini makin dihargai di kancah Internasional,” tutur kacank saat diwawancarai. Ditanya bocoran soal album EP yang akan launching, dan Monalisa hanya menjawab, ”Tunggu ajah kejutannya”.

Perkembangan musik di Indonesia atau di dunia semakin cepat berputar. Genre-genre musik semakin beragam jenisnya. Pernahkah kalian mendengar genre musik Grunge? Pasti pernah tetapi masih bingung seperti apa sih musik grunge itu. Grunge bukan jenias musik baru seperti emo, powerpop, ataupun elektro. Tapi grunge memiliki sejarah tersendiri, sehingga penikmatnya masih bertahan sampai saat ini.

Sebagian literatur menyebutkan grunge lahir sejak era jayanya punk ditahun 70-an dan bermuara di Minneapolis, dan sejak tahun 80-an mulai bergerak kekawasan pantai barat laut (Northwest) Amerika. Grunge musik nyaris minus sound effect, kecuali suara gitar yang sangat kasar, musik grunge dinilai banyak kritisi musik tak lebih dari Rock n’Roll minus attribut.

Grunge tidak lahir dengan sendirinya mungkin tidak sama dengan hardrock atau heavymetal. Namun grunge adalah jebolan dari hardrock era 70-an (diantaranya musik yang dibawakan semacam KISS, Black Sabath, AC/DC pada saat itu) yang berpasangan dengan punk rock (diantaranya seperti yang diusung Sex Pistols atau Ramones). Tetapi tak satupun jenis musik yang ingin disamakan, karena setiap genre memiliki ideologi masing-masing.

Apakah setelah grunge menjadi genre tersendiri, atau setelah grunge menjadi salah satu roda penggerak industri musik, masihkah juga pantas sebagai alternatif? Layangkan saja pandangan ke Seattle dinegara bagian Washington sana. Pasang saja telinga mulai dari kawasan pantai barat sampai dengan ke west coast di Amerika sana. Siapa yang bisa menyangkal besarnya grunge. Sekedar menyebut nama Pearl Jam, Alice In Chains, Soundgarden, Mudhoney adalah mereka yang telah mengecap manisnya madu industri musik lewat musik ini. Dan Seattle pun makin sah saja menjadi kiblatnya grunge. Seperti menyebut hal yang sama dengan Nashville untuk country, New Orleans untuk blues atau hardrock/heavymetal untuk LA.

Seattle jadi tujuan utama banyak group-group rock asal LA datang ke kota itu. Jangan ditanya kiprah media massa khusus musik, mereka mengakat profil Seattle sebagai laporan utamanya,dan akhirnya banyak perusahaan-perusahaan rekaman besar, jaman perburuan emas pun sudah dimulai. Dan istilah baru pun lahir “Seattle Sound”. Inilah istilah yang menunjuk pada warna musik rock yang diusung grup-grup asal atau jadi besar di Seattle.

Karakteristik Seattle sound inilah aplikasi dari grunge bahkan dengan garis batas yang nyaris makin besar hingga hampir semua grup digolongkan mengusung Seattle sound. Walaupun band-band itu bernama The Melvins, Ten Minute Warning, U-Men, Soundgarden, Skin Yard, Screaming Trees, TAD, Nirvana, Mudhoney, Mother Love Bone, Alice In Chains, Pearl Jam, Hole, dan sebagainya.

Jimi Hendrix sebagai awal lembaran musik grunge. Yeah, mungkin saja, karena ketika Hendrix masih berumur 11 tahun (1953), saat itu ia menyiram cairan ke seluruh gitar dan menyetel volume amplifier sampai ke angka maksimum. Namun tabir blantika grunge mulai terbuka pada tahun 1986, ketika album kompilasi Deep Six dirilis. Di album itu tampil antara lain Soundgarden, Green River, juga The Melvins.

Begitu bebas, begitu lepas, itulah cerminan yang terpantul dari sikap bermusik para pengusung grunge. Termasuk menempatkan bermusik sebagai hobi belaka bukan untuk merangguk uang. Artinya mereka cukup senang jika masuk rekaman lalu diedarkan oleh perusahaan rekaman kecil dan tidak peduli laku atau tidak. Tapi perjalanan waktu pun membuat keropos tiang-tiang prinsip. Sebagian pengusung grunge mulai yakin bahwa musik bisa menjadi penopang hidup.

Seperti yang diproklamirkan pertama kali oleh Jeff Ament, Stone Gossard, dan Andy Wood. Namun komunitas rock di Seattle tak gentar. Mereka lantas memproduksi album memori Temple of the Dog. Di album ini pun hadir Chris Cornell, teman sekamarnya Wood. Jeff Ament dan Stone Gosard di kemudian hari berkibar lewat Pearl Jam.

“AWALNYA ADALAH POPULARITAS, DAN JADILAH NIRVANA YANG TERATAS. AWALNYA ADALAH PUTUS ASA, DAN JADILAH KURT COBAIN MELEDAKAN KEPALA”

Kurt Cobain gitaris, vokalis sekaligus tonggak Nirvana ditemukan tewas 8 April 1994 sekitar pukul 9 pagi dirumahnya di Seattle. Dan bendera setengah tiang pun dikibarkan dipuncak grunge. Bahkan bisa jadi untuk blantika musik pop dunia. Tapi, Seattle Sound tak akan pernah redup, grunge tak akan berhenti menggerung.

Ketika Musik Indie Dipandang Sebelah Mata

Aw, aw, musisi baru semakin banyak bermunculan di jagad musik Indonesia, sampe bingung band apa sih itu? Dan siapa si mereka?

Selama ini banyak orang mengatakan bahwa musik indie adalah band-band yang gagal masuk mayor label. Wow, bener gak sih gitu? Netral, dan beberapa band lainnya banyak yang mengawali karir mereka dari indie label, dan yang lebih mengecewakan mengapa musik indie identik dengan musik keras dan brutal. Padahal nggak sejelek yang kita bayangkan lho! Banyak kok musik indie yang berkualitas dan dilirik oleh mayor label. Namun, yang menjadi masalah musik mereka tidak bersifat menjual dan kurang diminati, karena sebagian besar penduduk Indonesia lebih menyukai lagu-lagu pop yang menyedihkan dibanding lagu-lagu dari genre terobosan baru seperti elektro ataupun powerpop.

Banyak kok, band indie yang berkualitas tapi menolak masuk mayor label, seperti Netral. Tapi kontribusinya buat musik Indonesia bisa dipertarungkan dengan band mayor. Atau band-band indie Indonesia yang mengepakan sayap di negeri orang, seperti sweet as revenge, Killing Me Inside, dan lainnya

;;